Thursday, September 20, 2018

Kids, Know Your Gender Well (Kelompok 1)

September 20, 2018 0 Comments


Fase anak di bawah lima tahun atau biasa kita sebut sebagai balita adalah masa ktritikal untuk menjelaskan banyak hal,  termasuk untuk mengenalkan gender. Mengenalkan gender lebih dari sekedar mengenalkan jenis kelamin, namun lebih pada fitrah seksualitas.

Menurut ustad Harry Santosa dalam bukunya Fitrah Based of Education hal 188 menjelaskan bahwa Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Jadi bisa disimpulkan fitrah seksualitas di sini adalah mengenai konsep diri,  sifat,  perilaku dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.

Pengenalan gender adalah langkah awal untuk memberikan pendidikan seksualitas pada anak.  Dan hal ini membutuhkan energi lebih, pasalnya anak usia ini masih berpikir dengan konsep preoperasional,  dimana simbolik menjadi sangat penting dalam proses pembelajaran.  (Desmita, hal 130) oleh karena itu proses pembelajaran kreatif sangat dibutuhkan.

Pentingkah mengajarkan gender pada balita?

Mengenalkan gender pada anak sejak dini penting dilakukan, karena pada masa golden age kecerdasan mengalami peningkatan sampai 50 persen. Pembentukan konsep diri pada anak akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian dan perilaku anak saat ia dewasa.

Pada masa perkembangan dan pertumbuhannya, si Kecil akan mempelajari beberapa hal secara bertahap agar ia bisa menerimanya. Salah satu yang dipelajari si Kecil adalah mengenali perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Keluarga merupakan media pertama bagi si Kecil dalam mempelajari banyak hal termasuk perbedaan gender.

Pengenalan gender perlu dilakukan agar anak memahami perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Melalui pengenalan gender, orangtua bisa memberi pengajaran kepada anak mengenai area-area pribadi tubuhnya yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Selain itu, pengenalan gender juga mengajarkan anak mengenal identitas, tugasnya serta meminimalisir terjadinya kelainan seksual saat di dewasa.

Konsep pendidikan seks yang utama untuk balita adalah mengenalkan rasa malu dan membentuk kesadaran gender yang benar, pada saat TK,  mereka  akan merasa dengan jelas sebagai laki-laki atau perempuan.

Kapan waktu yang paling tepat mengenalkan gender?

Pengenalan gender bisa dilakukan sejak dalam kandungan, dimana harapan orangtua terhadap jenis kelamin anak yang di kandungnya akan berpengaruh pada perlakuan terhadap anak dan penerimaan anak terhadap gender.

Kemudian  dimulai lagi saat anak berusia 0, yakni saat dia mulai melakukan attachment pada ibunya untuk mendapatkan Asi. Namun Pengenalan gender  yang sejalan dengan perbedaan jenis kelamin  sudah bisa dikenalkan sejak usia 15 bulan. Yakni saat anak berada pada fase anal. Seperti yang telah dijelaskan oleh Anggia Hapsari, Sp. KJ (K)., psikiater anak Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya bahwa, Anak sudah bisa dikenalkan mengenai gender sejak usia 15 bulan hingga 3 tahun. Saat ini, anak sudah memasuki fase anal. Fase anal adalah fase ketika anak mulai mengerti mengenai fungsi alat kelamin.

Pada fase anal, anak sudah mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda. Menurut teori psikoseksual, pada fase anal kepuasan seksual berada pada proses pengeluaran kotoran melalui anus. Maka dari itu,  proses toilet training dilakukan pada fase ini.

Selain itu, pada usia 3 tahun anak berada pada masa ego sentris. Jadi jika pendidikan fitrah seksual sudah diajarkan dan si anak sudah bisa mengidentifikasi jenis kelaminnya maka dengan jelas anak akan bisa menentukan “Saya laki-laki” atau “Saya perempuan”.

Tahapan Pengenalan Gender

a.Usia 0-2 Tahun : dekatkan anak kepada ibunya karena mereka masih dalam fase menyusui
b. Usia 3-6 tahun : dekatkan anak kepada *Ayah dan Ibu*nya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional karena anak sudah harus memastikan identitas seksualnya sejak usia 3 tahun. Kedekatan parallel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya baik cara bicara, cara berpakaian, cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau perempuan. Merupakan fase yang rawan karena jika tidak bisa memberikan identitas yang jelas maka potensi LGBT dan penyimpangan seksual lain sudah dimulai.
c. Usia 7-10 tahun : Dekatkan anak dengan orang tua yang *sama gender*nya. Anak lelaki didekatkan dengan ayah missal : sholat berjamaah, bermain dengan ayah, belajar tatacara mandi wajib, dan konsekuensi memiliki sperma bagi laki-laki. Anak perempuan didekatkan ke ibunya missal: belajar memasak, menjahit, tentang menstruasi, dsb.
d. Usia 10-14 tahun : Anak didekatkan dengan orang tua yang berbeda gender. Usia ini Merupakan tahap kritikal, usia dimaa puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan. Anak lelaki dekat dengan ibu agar menjadi perasa dan mudah berempati, sedangkan anak perempuan didekatkan dengan ayah agar tidak kehilangan sosok ayah sehingga mampu menghargai drinya dan membentengi dari laki-laki yang dianggap dapat menggantikan peran ayahnya.
e. Diatas 14 tahun: anak telah memasuki usia akil baliq maka pembelajaran tentang fitrah seksualitas harus sudah tuntas.

Cara mengenalkan Konsep Gender
1. Melalui Permainan Anak
Konsep gender bisa dikenalkan melalui permainan anak. Pada usia balita, anak-anak biasanya senang bermain rumah-rumahan. Anak perempuan bisa berperan sebagai ibu, sementara anak laki-laki berperan sebagai ayah. Permainan seperti ini berperan untuk mengenalkan perbedaan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.
Anak laki-laki, misalnya, mempunyai peran sebagai kepala keluarga yang bekerja, melindungi keluarga dan yang lainnya. Anak perempuan berperan menjaga anak, mendongeng, memasak, dan lain sebagainya.
Penting!
Orangtua sering kali terjebak pada pemahaman yang keliru tentang boneka. Pada dasarnya, boneka tidak hanya untuk anak perempuan saja. Anak laki-laki juga bisa bermain boneka, dan bukan hal yang harus dilarang.
Perbedaannya adalah pada pandangan anak tentang boneka. Anak perempuan akan menganggap boneka sebagai “anak” atau bayinya. Sementara anak laki-laki cenderung menyukai action figure, boneka hewan, dan patung-patung kecil.
2. Melalui Buku Cerita
Anak-anak sangat suka belajar melalui dongeng atau cerita. Meski mereka belum bisa membaca sendiri cerita yang mereka inginkan, anak-anak sangat antusias ketika dibacakan cerita. Pilihlah cerita-cerita tertentu yang disukai anak. Setelah membacakan cerita, tanyakan hal-hal tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, misalnya, “Tokoh ini mirip ibu atau ayah, kak?”
3. Lewat Film
Selain buku cerita, film juga menjadi media yang tepat untuk mengenalkan konsep gender. Tontonlah film anak-anak yang menurut Anda relevan untuk ditonton si kecil. Setelah itu, buatlah pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan konsep gender. Atau jika memungkinkan, minta anak-anak bertanya kepada Anda.
Berkaitan dengan pertanyaan anak tentang gender, berikanlah jawaban yang sederhana dan lugas. Jangan memberikan jawaban yang ambigu dan terkesan ditutup-tutupi. Hal tersebut justru akan memberikan salah pengertian pada anak.
4. Jelaskan secara sederhana
Apabila anak bertanya maka jelaskan dengan Bahasa yang simple dan mudah dipahami oleh anak. Misal jangan menggunakan Bahasa kiasan untuk menjelasan alat kelamin laki-laki dengan nama "burung, titit, dsb" karena akan menimbulkan ambigu apada anak, biasakan anak untuk belajar memahami

Dont Touch Me!1
Aurat memiliki arti sebagai bagian tubuh yang harus ditutupi atau dilindungi dari pandangan orang lain. Menampakkan aurat bagi umat Islam, dianggap melanggar syariat dan dihukumi dosa. Sehingga, memelihara aurat sama dengan memelihara syariat itu sendiri.
Bagi anak-anak terutama balita, tentunya memperkenalkan aurat tak segampang menjelaskan kepada orang dewasa. Di sinilah orang tua harus pintar dalam menterjemahkan ke dalam bahasa anak. Bisa menggunakan metode menyanyi, metode visual agar tertangkap otak kanan, atau menggunakan teknik bercerita.
Katakan pada mereka, kalau aurat perempuan dan laki-laki itu berbeda. Ada laki-laki dimulai dari pusar sampai ke lutut, sedangkan untuk perempuan, seluruh tubuhnya harus ditutupi kecuali muka dan telapak tangan. Jelaskan dengan menunjukkan langsung mana anggota tubuh yang dimaksudkan.
Memperkenalkan aurat merupakan tarbiyah jinsiyah (sex education), sangat dirasa wajib untuk dipahamkan pada anak. Mengingat pada zaman sekarang, banyak sekali kasus pelecehan seksual pada anak sering terjadi. Memperkenalkan tentang aurat dan bahaya mempertontonkannya, sebisa dan sedini mungkin dipahamkan pada anak. Kasih tahu pada anak-anak, bahwa ada bagian tubuh yang tidak boleh dilihat apalagi disentuh kecuali oleh ayah ibunya. Penyampaiannya tentu disesuaikan dengan umur mereka. Pahamkan pada anak-anak untuk menjaga diri mereka; pahamkan pada mereka bahwa:
1. Tubuh adalah karunia dari Allah yang sangat berharga, oleh sebab itu kita harus menjaga baik-baik.
2. Kita berhak menolak orang yang akan menyakiti kita, katakan dengan tegas jika kita tidak menyukai perlakuan orang lain pada kita.
3. Tubuh kita hanya boleh disentuh oleh diri kita sendiri, orang tua kita, dan dokter saat melakukan pemeriksaan.
4. Area yang tidak boleh dipegang orang lain adalah mulai dari dada hingga paha.
5. Jika seseorang memaksa, kita harus berteriak dengan kencang dan menjadikan benda di sekitar kita sebagai senjata untuk melawan orang itu.
6. Selalu berdoa kepada Allah karena hanya Dialah penjaga terbaik bagi kita.
7. Jangan ragu untuk bercerita pada orang tua, jika merasa tidak senang terhadap sesuatu agar mereka bisa membantu kita.
Selain larangan memperlihatkan anggota tubuh yang termasuk aurat, mereka juga dikasih tahu, kalau melihat aurat orang lain sama juga dilarang dan dianggap berdosa. Sehingga, diharapkan matanya juga lebih terjaga, dan hatinya lebih tertata.

Referensi:
Cemerlang.blogspot.com
Desmita,  Psikologi perkembangan, Bandung,  2008.
Dian Mardi s., Gita lovusa, dkk, "how to make a baby, mommy"
Harry Santosa, Fitrah Based Education versi 03 tahun 2017.
https://schoolofparenting.id/mengenalkan-konsep-gender-pada-anak-usia-dini/
-https://www.google.co.id/amp/s/www.guesehat.com/amp/pentingnya-mengenalkan-perbedaan-gender-pada-si-kecil-sejak-dini
https://www.guesehat.com/mengenalkan-gender-kepada-anak-wajib-dilakukan-sejak-dini
https://www.ibudanbalita.com/artikel/4-cara-mengenalkan-perbedaan-gender-pada-si-kecil
the sex education, jurus jitu ngobrol tentang sex dengan anak oleh bubu baba

Sunday, September 9, 2018

Grab Your Imagination (Day 7)

September 09, 2018 0 Comments
👩: Mas Daffa mau cerita apa sekarang? (Sebelum memulai cerita saya sengaja bertanya sama Daffa, agar dia biasa menentukan pilihannya dan lebih senang bercerita karena dia yang menentukan.

👦: Hem,  apa ya?? Cerita Gajah!

👩: Gajah terus, 

👦: (tertawa) 

👩: Ya sudah, kita cerita Gajah ya.  Pada suatu hari anak gajah sedang memegang hp.

👦: bukan anak gajah bunda,  tapi daffa (tersenyum malu)

👩: Hahaha anak gajah terus saja pegang hp walaupun bundanya memanggil.  Setelah itu,  anak gajah "mengucek" matanya karena berair.  Lalu ibu gajah datang, "tuh kan,  matanya calrj soalnya kamu lihat hp terus. Setelah itu anak gajah menaruh hpnya dan membantu bundanya membereskan mainannya.

Jadi,  Mas Daffa gak boleh terlalu lama pegang hp,  kenapa?

👦:takut sakit mata

👩: 😅🤗


#Day7
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Grab Your Imagination (Day 6)

September 09, 2018 0 Comments
👦: Bunda,  ayo cerita

👩: Cerita apa, Nak?

👦: harimau

👩:Waw harimau....  Ok,  kita cerita harimau ya...
Pada suatu hari,  harimau sedang ke hutan. Terus harimau bertemu....

👦: Rusa

👩: oh iya rusa.  Kemudian rusa takut melihat harimau.  Jangan takut rusa,  saya tidak akan memakanmu.  Kamu mau ke mana?  Aku mau ke sana.  Kata rusa sambil menunjuk jalan di depannya. Ayo kita jalan bersama. Kata harimau pada rusa. Harimaunya baik ya,  nak?

👦: Iya bunda

Dari kisah ini saya ingin menjelaskan bahwa harimau tidak selamanya jahat dan memakan binatang lainnya,  tapi dia juga baik dan bisa berteman.



#Day6
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination